Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Pre-IPOs
Buka akses penuh ke IPO saham global
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Gua baru perhatiin fenomena menarik di market crypto minggu lalu. Saat geopolitik tegang antara AS, Israel, dan Iran meningkat drastis, Bitcoin malah jadi pressure valve untuk seluruh risk sentiment global. Harga BTC sempet naik ke $65.000 tapi akhirnya turun lagi ke sekitar $64.700, mencerminkan ketidakpastian trader akhir pekan.
Kenapa Bitcoin bergerak gini? Soalnya crypto beroperasi 24/7 sementara pasar saham dan obligasi tutup saat akhir pekan. Jadi saat berita buruk muncul di luar jam trading normal, trader traditional markets gak bisa jual di tempat mereka. Akibatnya semua tekanan jual terpusat ke Bitcoin dan crypto lainnya. Itu yang disebut prinsip pascal dalam sistem pasar—tekanan terdistribusi mencari jalan keluar, dan crypto jadi outlet utamanya.
Menteri Pertahanan Israel mengumumkan keadaan darurat nasional, Iran melaporkan korban sipil di Hormozgan termasuk serangan ke sekolah dasar, dan rudal diluncurkan ke arah Israel. NATO, China, dan Turki langsung mengeluarkan statement tentang de-eskalasi. Berita headline kayak gini biasanya bikin panic selling di aset risky, dan memang Bitcoin turun sekitar 3% dalam hitungan jam—level terendah sejak 5 Februari ketika BTC sempet di bawah $60.000.
Tapi yang menarik, meskipun headline berat, Bitcoin relatif stabil mengingat situasinya. Ini menunjukkan penjual masih dominan tapi gak ada tekanan jual panik yang ekstrem. Buku order yang tipis di akhir pekan lebih berpengaruh daripada aksi selling aktif.
Dari data on-chain, realized losses Bitcoin turun jadi sekitar $400 juta per hari dari puncak $2 miliar, berarti forced selling sudah berkurang. Profit-to-loss ratio naik ke 1,4, menunjukkan realized gains sekarang lebih besar dari realized losses. Ini signal bahwa market condition mulai membaik meski risiko headline tetap ada untuk trader BTC selama hari berjalan di AS.
Yang jadi pembelajaran: pasar crypto gak bisa diisolasi dari market tradisional. Ketika saham dan obligasi tutup, crypto menjadi satu-satunya aset besar dan likuid yang tersedia. Jadi setiap kali ada shock geopolitik di akhir pekan, Bitcoin langsung jadi barometer untuk risk sentiment global. Situasi kayak gini terus berulang, dan trader perlu prepare untuk volatilitas akhir pekan setiap kali ada berita geopolitik sensitif.