Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Futures Kickoff
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
#TrumpSaysIranConflictNearsEnd 🛢️ Guncangan Energi dan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak mentah adalah katalis utama untuk penjualan besar-besaran baru-baru ini. Per 9–10 Maret 2026:
Brent dan WTI: Kedua tolok ukur ini sempat melonjak singkat menuju $120 per barrel—tingkat tertinggi sejak 2022—sebelum mengalami fluktuasi ekstrem selama hari perdagangan.
Selat Hormuz: Penutupan efektif jalur ini, yang mengelola sekitar 20% minyak dan LNG global, telah menciptakan kekosongan pasokan. Produsen utama seperti Irak dan UEA telah mulai mengurangi produksi karena tangki penyimpanan mencapai kapasitasnya.
🌏 Dampak Pasar Regional
Penurunan ini paling dirasakan di ekonomi Asia yang bergantung pada impor:
Korea Selatan (KOSPI): Indeks ini anjlok hampir 6% pada hari Senin, 9 Maret, dengan penurunan intraday lebih dari 8%. Ini memicu penghentian perdagangan "sidecar" (untuk membendung penjualan panik), terutama di perusahaan teknologi besar seperti Samsung dan SK Hynix.
India: Nifty dan Sensex menghadapi tekanan berat karena investor institusional asing (FII) menarik modal, ketakutan oleh prospek tagihan impor yang besar dan inflasi domestik yang meningkat.
Amerika Serikat: Wall Street mengalami volatilitas dramatis. Sementara Dow Jones turun lebih dari 1.200 poin pada awal perdagangan selama puncak kepanikan, indeks menunjukkan sensitivitas terhadap berita apa pun mengenai pelepasan Cadangan Minyak Strategis (SPR).
📉 Fenomena "Stagflasi"
Para investor semakin khawatir tentang stagflasi—siklus yang menghukum pertumbuhan stagnan dan inflasi tinggi.
Inflasi: Biaya energi yang lebih tinggi bertindak sebagai "pajak" bagi konsumen dan meningkatkan biaya manufaktur.
Pertumbuhan: Data ketenagakerjaan yang lemah (seperti laporan pekerjaan Februari yang menunjukkan penurunan 92.000 pekerjaan) dikombinasikan dengan suku bunga tinggi menunjukkan bahwa ekonomi global mungkin kehilangan momentum "pendaratan lunak".
Apa yang Harus Diperhatikan Selanjutnya
Pasar saat ini "berdasarkan berita utama," artinya fundamental perusahaan menjadi nomor dua dibandingkan perkembangan geopolitik. Pemicu utama untuk pembalikan termasuk:
Sinyal De-eskalasi: Setiap terobosan diplomatik di Timur Tengah.
Cadangan Strategis: Pelepasan minyak secara terkoordinasi oleh negara-negara G7 untuk menstabilkan harga.
Pivots Bank Sentral: Apakah Fed atau ECB menyesuaikan jalur suku bunga mereka sebagai respons terhadap perlambatan pertumbuhan.#TrumpSaysIranConflictNearsEnd